Hari Konsumen
Suara Pakar

INFLUENCER DALAM PUSARAN HOAKS

Penulis : Hadi Purnama  (Dosen Digital PR dan Koordinator Mafindo Bandung Raya)

[ OPINI] –  Konten Musisi  Anji sekaligus seorang influencer di media sosial menimbulkan gonjang-ganjing baru di jagat maya. Wawancara yang dilakukannya dengan seorang pakar mikrobiologi bernama Hadi Pranoto di kanal Youtube mendapat sorotan tajam dari banyak kalangan. Bahkan, bukan hanya kontroversi, kasus ini sudah mulai memasuki ranah hukum. Peristiwa ini menambah deretan panjang tentang rentannya imunitas informasi di kalangan masyarakat di satu sisi, serta makin masifnya hoaks yang diproduksi banyak pihak terutama tokoh publik.

Apa yang dilakukan oleh Anji, yang cenderung selalu menyepelekan bahaya Covid-19, bukanlah yang pertama. Beberapa unggahannya di media sosial telah menyulut kontrorversi di kalangan yang mendukung dan yang berseberangan dengan pendapatnya. Bukan hanya Anji, sejumlah tokoh publik di tingkat lokal, nasional, dan global, baik dari kalangan selebritas dan pejabat publik di lingkungan pemerintahan yang ikut mengumbar pernyataan yang cenderung meremehkan Covid-19.

Sebut saja Youtuber Indira Kalistha yang mengumbar pernyataan bahwa masyarakat terlalu melebih-lebihkan Covid-19, padahal menurutnya dampaknya “sih B aja” (maksudnya biasa saja). Sontak pernyataan itu memancing komentar banyak pihak, termasuk dari kalangan medis yang mengingatkan tentang bahaya Covid-19. Bahkan, seorang seniman lokal di Surabaya melalui videonya yang viral pernah sesumbar wabah corona adalah akal-akalan pemerintah semata, seraya mengaku benari menghirup udara dari mulut pasien positif Covid-19.

Resistensi terhadap bahaya Covid-19 juga pernah diungkapkan oleh musisi Superman is Dead (SID), Jerinx. Musisi asal Bali itu menuduh pandemi Covid-19 merupakan bagian dari konspirasi sejumlah organisasi dan tokoh internasional. Bahkan secara terang-terangan ia menuduh petinggu WHO dan pendiri Microsoft beada di balik isu pandemic Covid-19.

Tidak berhenti sampai di situ, Jerinx bahkan menyeret organisasi IDI dan institusi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit sebagai kacung WHO karena dinilai tunduk terhadap aturan yang dibuat oleh organisasi kesehatan dunia itu.

Bukan hanya selebritas Indonesia, sejumlah selebritas internasional juga kerap menyampaikan pernyataan kontroversial terkait Covid-19. Sebut Evangeline Lily, salah satu pemeran di film Ant Man yang tidak mau patuh terhadap anjuran menjaga jarak sosial (social distance), karena menganggap Covid-19 sebagai penyakit pernafasan biasa. Lain halnya dengan aktor watak Woody Harrelson yang ikut menyebarkan informasi (bohong) tentang 5G ada hubungannya dengan virus corona di akun media sosialnya.

Di luar selebriti, para tokoh publik dari kalangan politisi juga ikut berperan dalam menyebarkan informasi tidak akurat atau bohong terkait virus corona. Untuk pejabat publik di Indonesia, baik yang selevel menteri, pemimpin daerah hingga anggota legislatif pun tidak sedikit yang turut andil dalam menyepelekan atau menyederhanakan bahaya Covid-19. Paling tidak pernyataan yang dikutip media massa itu kemudian menyebar di media sosial, sehingga sebagian besar warganet kemudian ikut mengamininya sebagai sebuah kebenaran.

Mendegradasi Informasi
Lebih ironisnya lagi, bila pernyataan yang mendegradasi informasi yang dikeluarkan oleh otoritas resmi tentang Covid-19, justru dilakukan oleh pejabat publik seperti presiden atau kepala pemerintahan seperti terjadi di beberapa negara seperti di AS dan Brazil. Prseiden Donald Trump yang dikenal aktif menggunakan Twitter, kerap mengunggah cuitan yang justru berserberangan dengan otoritas kesehatan AS.

Bahkan Trump kerap menunjukkan sikapnya yang meremehkan virus corona dengan tidak menggunakan masker saat berada di ruang publik, seraya mengabaikan jarak sosial yang harusnya menjadi syarat dalam protokol kesehatan.

Lebih parah lagi sikap yang ditunjukkan Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, yang justru menentang pemberlakuan lock-down atau pembatasan sosial sebagai upaya efektif memutus rantai penyebaran virus corona di negerinya. Arogansi Bolsonaro terhadap bahaya Covid-19 juga tetap ditampilkan saat dirinya dinyatakan positif Covid-19 dan harus melakukan isolasi mandiri. Bahkan, sikapnya yang cenderung menyepelekan virus corona kembali ditunjukkan saat dinyatakan sembuh, saat tampil di muka publik dengan menggunakan motor tanpa menggunakan masker wajah!

Mengatur Influencer
Para sebagai key opinion leaders (KOLs) di media sosial saat ini memiliki posisi yang tidak bisa diremehkan dalam kehidupan yang serba digital. Status sosial para KOLs, para influencer, buzzer, youtuber, vlogger, selebgram dan beragam julukan lainnya, merupakan komunitas berpengaruh di media daring saat ini. Pengaruhnya dapat aktivitas sosial, bisnis, hingga politik. Posisi mereka kerap dimanfaatkan dalam mengedukasi masyarakat untuk berbagai isu sosial, hingga digunakan untuk menggiring opini politik para pengikutnya.

Betul, para pemuka pendapat di media daring biasanya memiliki pengikut yang sangat fanatik. Para pengikut mereka yang kadang jumlahnya sangat fantastis itu – adalah asset yang tidak ternilai. Bagi sebagian influencer, pengikut adalah pasar yang dapat dikapitalisasi dan dimonetisasi untuk tujuan komersial atau bisnis hingga. Secara ekonomi banyak influencer kemudian menjadi hartawan dengan pundi-pundi keuangan yang diperoleh dari asset yang berhasil dibangun melalui konten yang ditampilkan di akun media sosial mereka.
Persoalan muncul ketika sebagian influencer tergoda untuk mendapatkan pengikut dalam waktu singkat karena iming-iming monetisasi. Berbagai cara dilakukan, termasuk membuat konten berjenis prank yang cenderung potong kompas dalam mencari popularitas, atau konten yang mengabaikan kebenaran informasinya.

Sudah saatnya ruang gerak para influencer diatur bukan hanya melalui edukasi melainkan juga melalui regulasi yang ketat. Bukan hanya melalui UU ITE atau undang-undang lain yang cakupannya lebih umum semisal KUHP. Pengaturan ini bukan untuk membelengu kreatifitas mereka, atau membatasi kesempatan untuk memeroleh keuntungan finansial. Melainkan semata untuk membangun sikap dan perilaku yang lebih mengutamakan kepentingan publik. Seturut pepatah merusak lebih mudah dibandingkan memperbaiki, maka dampak yang dapat ditimbulkan dari konten negatif para influencer, terutama di saat membuat konten hoaks, pada akhirnya akan merusak tatanan dunia maya. (SKC)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker